Sarung dari Zaman ke Zaman

Sarung menjadi ciri khas bagi masyarakat muslim di Indonesia. Sarung dari zaman ke zaman mengalami perkembangan yang pesat. Tak salah kalau budayawan, Hilmar Farid menyebut bahwa sarung memiliki nilai, sejarah, dan cerita.


Beragam corak sarung muncul di Indonesia dengan keunikannya masing-masing. Bahan untuk membuat sarung juga bermacam –macam. Begitu juga dengan harganya dan fungsinya.

Dalam sejarahnya sarung berasal dari Yaman, Timur Tengah. Di negeri para habib itu sarung biasa disebut dengan futah. Di berbagai negara sarung juga mempunyai sebutan khusus. Di Omam sarung disebut dengan wizaar. Sedangkan orang Arab Saudi menyebutnya dengan izaar.

Dalam Ensiklopedia Britanica sarung adalah tradisional masyarakat Yaman. Sarung diproduksi dan digunakan masyarakat tradisional Yaman sejak zaman dulu hingga kini. Di Yaman, sarung pada awalnya banyak digunakan suku badui. Sarung tersebut dibuat dari kain putih yang dicelupkan ke dalam neel yaitu bahan pewarna yang berwarna hitam. Saat ini futah atau sarung Yaman menjadi salah satu oleh-oleh khas Yaman dengan beragam variasi, seperti model assafi, al-kada, dan annaqshah.

Pengertian sarung adalah sepotong kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian bawah tubuh yaitu pinggang ke bawah. Kain sarung dibuat dari berbagai macam bahan kain seperti katun, poliester, hingga sutera. Adapun kegunaannya sangat multifungsi dari santai hingga resmi. Dari ibadah hingga perkawinan. di Indonesia sarung juga terkait pada pelengkap busana daerah.

Di negeri asalnya sarung bukanlah pakaian yang diidentikkan untuk melakukan ibadah seperti sholat. Di Mesir sarung hanya untuk tidur dan dianggap tidak pantas dipakai di masjid maupun untuk acara resmi.

Sarung diperkirakan muncul di Indonesia pada abad ke 14. Para saudagar Yaman dan India yang memperkenalkan sarung di Indonesia. Seiring waktu sarung di Indonesia menjadi busana yang identik dengan budaya Muslim.

Di Indonesia atau negara sekawasan seperti Malaysia dan Brunei, sarung identik sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk seperti pipa. Di Indonesia, sarung berubah menjadi pakaian kehormatan. Memakai sarung menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi. Tak heran kalau sarung menjadi salah satu pakaian untuk melakukan kegiatan ibadah seperti sholat.

Sarung dari zaman ke zaman di Indonesia mengalami perubahan. Di zaman penjajahan Belanda, sarung dipakai sebagai simbol perlawanan. Kaum santri andalah komunitas masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung. Salah satu tokoh yang konsisten menggunakan sarung adalah KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang tokoh penting di Nahdhatul Ulama. Kini wakil presiden KH Makruf Amin adalah tokoh yang juga sering memakai sarung dalam kegiatan-kegiatan resminya.

Sarung di Indonesia mempunyai bahan yang berbeda- beda. Untuk pakaian daerah sarung daerah dibuat dari bahan tenun ikat, songket, serta tapis. Pada umumnya motif kain sarung adalah garis-garis yang saling melintang atau kotak-kotak.

Sarung saat ini menjadi bagian dari dunia fashion. Perancang busana Samuel Wattimena menyebutkan sarung di Indonesia kaya akan motif. “Sarung asli Indonesia ini cantik-cantik dan bisa dikreasikan sedemikian rupa sehingga cocok juga untuk digunakan generasi milenial. Perajin perlu menemukan motif baru atau untuk penenun muda, bisa membuat motif-motif yang mereka paham,” katanya.

Di Indonesia sendiri pernah diadakan sebuah acara yang memperkenalkan sarung dengan menggelar sarungfest pada tahun 2019 lalu. Acara ini adalah untuk memperkenalkan sarung sebagai new lifestyle dan menjadikan pemanfaatan sarung lebih luas dan fashionable.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain