Mengenal Lembaga Pentashih Mushaf Al Quran

bayt al quran

Al Quran yang beredar di Indonesia diharuskan mendapat pengesahan atau tashih. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian Al Quran agar terhindar dari kesalahan cetak atau jilid sekecil apapun. Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran adalah satu-satunya yang mempunyai otoritas dalam pentashihan tersebut.


Lembaga ini berdiri cak tahun 1957. Lembaga ini didirikan sebagai komitmen pemerintah yang menaruh perhatian pada upaya pemeliharaan Al Quran. Tugas utama lembaga ini adalah mentashih atau memeriksa dan mengoreksi setiap mushaf Al-Quran yang akan dicetak dan diedarkan kepada masyarakat Indonesia.


Latar belakang terbentuknya lembaga ini adalah untuk menjaga kesucian Al Quran dan terhindar dari kesalahan cetak dan jilid sekecil apapun. Di samping itu juga karena keanekaragaman Al Quran yang beredar di Indonesia.


Kepengurusan lembaga ini terdiri atas penasehat, ketua, wakil ketua sekretaris, wakil sekretaris dan anggota. Mereka diangkat dan diberhentikan melalui Keputusan Menteri Agama dan dan menjabat selama 4 tahun. Namun hal ini bisa berlanjut apabila masih diperlukan. Kepala Lajnah dipegang secara ex officio oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama.


Namun keberadaan lembaga ini tidak muncul dalam struktur tersendiri. Lembaga ini hanya semacam panitia adhoc dan menjadi Puslitbang Lektur Keagamaan. Pada perkembangannya tugas Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran. Tidak hanya mentashih saja tetapi juga tetap ditambahkan dengan tiga tugas baru yaitu :


Pertama, meneliti dan menjaga mushaf Al Quran, rekaman bacaan Al-Quran, terjemah dan tafsir Al Quran secara preventif dan represif


Kedua, mempelajari dan meneliti kebenaran mushaf Al-Qur’an, Al-Qur’an untuk tunanetra atau Al Quran Braille, bacaan al-Quran dalam kaset, piringan hitam dan penemuan elektronik lainnya yang beredar di Indonesia


Ketiga, menyetop peredaran Mushaf Al Quran yang belum ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran.

Namun pada tahun 2007 masih sebatas mentashih Al Quran dengan segala macam produknya semakin meluas lagi sehingga tugasnya meliputi tiga bidang yaitu Bidang Pentashihan, Bidang Pengkajian Al-Qur’an, dan Bidang Bayt Al Quran dan Dokumentasi.


Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran ini sekarang menempati Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal yang diresmikan pada tanggal 20 April 1997 oleh Presiden RI pada waktu itu. Gedung ini dibangun di atas tanah seluas 20.013 m2 dengan luas bangunan ± 20.402 m2. Gedung ini terdiri atas empat lantai yang masing-masing berfungsi sebagai masjid, main hall, museum shop, dan ruang pamer, ruang pamer dan audio visual, perkantoran dan ruang perpustakaan, dan ruang seminar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain