Ilmu Qiraah dan Asal Usulnya

qiraah

Ilmu Qiraah atau ilmu yang membahas tentang cara pengucapan tiap kata dari al Quran ternyata mempunyai berbagai jalur penuturan. Meskipun berbeda-beda namun tetap mengacu pada bacaan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW.

Disebutkan dalam Ensiklopedia  Islam bahwa perbedaan qiraah berkisar pada lahjah (dialek), tafkhim (penyahduan bahasa), tarqiq (pelembutan), imla (pengejaan), madd (panjang nada), qasr (pendek nada), tasydid (penebalan nada) dan takhfif (penipisan nada).

Ilmu qiraah ini dalam sejarahnya mulai dikenal pada masa sahabat Nabi SAW. Kemudian berkembang dan menjadi populer ketika masa tabiin. Nah, pada masa tabiin pula muncul berbagai aliran atau mazhab dalam qiraah. Meskipun berbeda, namun madzhab qiraah disatukan dalam had quraisy atau bahasa Arab dengan dialek Quraisy, yang telah disepakati secara ijmak pada mushaf Usmani.

Kelompok ahli qiraah yang masyhur di zaman Rasulullah SAW antara lain Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Kaab, Aziz bin Tsabit, abu Musa al Asy’ari dan Abu Dardak. Sedangkan dari kalangan tabiin diantaranya adalah Ibnu Musayyab, Umar bin Abdul Azis, Ikramah dan lain sebagainya.

 Selanjutnya ilmu ini semaki populer dan mengalami perkembangan pesat pada abad ke satu hijriyah. Hal ini beriringan dengan berkembangan ilmu syariat lainnya. Kemudian bentuk, dan cara periwayatan aliran qiraah dinisbatkan pada imam yang menjadi penuturnya hingga muncul lima belas aliran.

Namun yang paling dikenal adalah tujuh aliran dalam qiraah ini yang populer dengan nama qiraah sab’ah. Ketujuh penutur qiraah sab’ah yaitu : Nafi al Madani, Ibnu Kasir al maki, abu Amr al Basari, Abdullah bin Amir as Syami, Asim al Kufi, Hamzah as Zaiyat dan Abu Hasan Ali Al Kisai. Kemudian ada juga kiraah sepuluh yaitu terdiri dari nama-nama yang tercantum dalam karah Sab’ah ditambah dengan Abu Ja’far Yazid bin Qa’qa’, Ya’kub bin Ishaq al Hadrami dan Muhammad Khalaf bin Hisyam. Adapun qiraah lima belas ditambah dengan nama Ibnu Muhaisan, Yahya al Yazidi, asan al Basri, A’mas al Kufi, dan Talha.

Setiap qiraah ini menyebar luas melalui mudir-muridnya dan generasi sesudahnya melalui jalur dikenal dengan nama rawi. Adapun rawi yang dikenal antara lain Qalun abu Musa dan Warasy Abu Said.

Disebutkan bahwa satu qiraah yang dianggap sahih apabila memenuhi tiga syarat yaitu mengacu pada mushaf Usmani  dan mempunyai kepercayaan pada sanad rawi dan tariq. Berdasarkan kedua  hal tersebut terdapat beberapa jenis qiraah yaitu yang mutawatir, ahad atau perorangan dan syazz atau langka.  Sebagian kalangan menganggap bahwa qiraah sab’ah adalah mutawatir. Adapun qiraah sepuluh adalah ahad dan duluarnya adalah syazz.  Menurut pendapat Abu Bakar Atjeh bacaan qiraah yang umum ada di Indonesia adalah riwayat Hafsah yang disandarkan pada bacaan Asim al Kufi.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

sandal

Memakai Sandal Menurut Islam

Memakai sandal ternyata mempunyai banyak manfaat. Tidak hanya dari segi kesehatan, namun juga dari sudut agama. Islam sendiri sangat menganjurkan memakai sandal. Bahkan Rasulullah saw