Bulan Sya’ban, Bulan Persiapan Jelang Ramadhan

sya'ban

Umat Islam sudah memasuki bulan Sya’ban. Bulan dalam kalender 8 penanggalan Hijriyah ini mempunyai banyak kemuliaan. Rasulullah saw pun memberikan memberikan beberapa contoh ibadah untuk menghormati bulan mulia ini.

Penamaan Sya’ban ada yang dikaitkan dengan orang-orang Arab pada waktu itu banyak berpencar untuk mencari mata air sehingga terpencar dan bercerai-berai. Hal ini mengandung makna bahwa mencari air di padang pasir adalah simbol perjuangan mati-matian untuk mempertahankan hidup. Ada yang mengartikan Sya’ban adalah pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak.

Ada juga yang berpendapat bahwa Sya’ban sendiri berasal dari kata Syi’ib yang artinya jalan disebuah gunung atau bisa diartikan jalan kebaikan. Disamping itu adalah perjuangan meraih masa depan yang lebih baik.

Dalam konteks  ibadah bulan Sya’ban dapat dikatakan sebagai bulan pemantapan iman. Sebab dalam bulan ini seorang muslim dituntut untuk selalu mempersiapkan mental spiritual menyambut datangnya bulan Ramadhan yang mulia.

Pada bulan Sya’ban ada peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh umat Islam, yaitu pindahnya kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Ceritanya ketika Nabi Muhammad saw. menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa berdoa hingga Allah SWT mengabulkan penantiannya Maka turunlah ayat, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144)

Salah satu amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam bulan Syaban ini adalah memperbanyak puasa sunah, sedekah dan membaca Al Quran. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.  “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau banyak melakukan puasa di luar Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR Muttafaq ‘alaih). Hadis ini menerangkan bahwa pada bulan Rasulullah saw. memperbanyak untuk melakukan puasa sunnah.

Syeikh Nawawi Banten di dalam Nihayatuz Zain menjelaskan bahwa puasa sunah yang kedua belas adalah puasa Sya’ban. Sebab Nabi Muhammad SAW sangat suka berpuasa pada bulan tersebut. Siapa saja yang berpuasa di bulan Sya’ban, ia akan memperoleh sya’faat di hari kelak.

Pada bulan ini juga turun ayat tentang anjuran membaca sholawat. Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia pada bulan ini ke langit. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An Nasai yang mengatakan bahwa “Inilah bulan yang di dalamnya amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain