Syarat Mufti, Tidak Sekedar Menguasai Ilmu Agama

mufti

Kita sering mendengar tentang kata mufti. Apa sebenarnya mufti itu dan bagaimana perannya dalam sejarah perkembangan Islam. Bagaimana sebenarnya syarat menjadi mufti. Seorang mufti ternyata tidak hanya sekedar menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu pendukung lainnya.    

Mufti berasal dari bahasa arab yang berarti orang yang mengeluarkan fatwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan oleh umat Islam mengenai masalah-masalah yang ada di masyarakat terkait dengan hukum Islam. Adapun orang yang memberikan fatwa disebut dengan mufti.

Para mufti ini mengeluarkan fatwanya melalui ijtihad. Sehingga tidak salah kalau para mufti ini disebut  mujtahid baik mujtahid mutlak atau mujtahid madzhab. Untuk mujtahid mutlak atau mujtahid mustaqil dalam mengeluarkan fatwa tidak terikat oleh mazhab. Sedangkan mujtahid mazhab atau mujtahid fi al madzhab mengeluarkan berdasarkan fatwa terhadap madzhab yang dianutnya seperti Madzhab Syafii, Madzhab Maliki, Madzhab Hanbali atau Madzhab Hanafi.

Dalam sejarahnya, sebelum perkembangan madzhab, fatwa dimintakan kepada mufti secara perorangan. Saat itu belum ada lembaga atau perkumpulan para mufti. Para mufti yang mengeluarkan fatwa pada masa ini tersebar di Madinah, Yaman, Bagdad, Syam, Kufah dan daerah lainnya.

Setelah itu muncullah madzhab dalam bidang fikih. Diantara madzhab yang paling terkenal adalah Madzhab Syafii, Madzhab Maliki, Madzhab Hanbali atau Madzhab Hanafi. Setelah itu muncul mufti besar seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Masa selanjutnya terjadi pembentukan lembaga yang didirikan oleh beberapa mufti. Mereka membentuk lembaga fatwa atau komisi fatwa. Dalam lembaga atau organisasi itu para mufti bergabung  dan memberikan fatwa terhadap persoalan umat yang berkembang sesuai zamannya. Hasi ijtihad para mufti kemudian disebar luaskan. Lembaga tersebut ada yang didirikan pemerintah seperti di Arab Saudi atau didirikan oleh sekumpulan para ulama seperti di Al Azhar. Adapun di Indonesia sendiri para ulama dalam memberikan fatwa memalui lembaga yaitu Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.

Adapun hal-hal yang bisa dipecahkan dengan fatwa oleh para mufti itu ada empat hal yaitu : hukum dalam Islam, dalil atau argumen tentang hukum, tujuan dalil tersebut dan jawaban dari bantahan. Seorang mufti tidak dibenarkan berfatwa tentang sesuatu yang tidak diketahuinya secara ilmiah. Selain itu seorang mufti harus mempunyai ketinggian ilmu, kecerdasan, dan kesempurnaan dalam memberikan nasehat.

Meniadi seorang mufti harus mempunyai beberapa syarat diantaranya adalah mempunyai kedalaman ilmu tentang al Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Selain itu juga menguasai hasil ijtihad para ulama lampau seperti ijma dan qiyas. Mereka harus juga menguasai ilmu alat seperti ilmu qawaid, fikih, ushul fikih, hadis dan tafsir. Tidak hanya itu seorang mufti juga harus menguasai perkembangan ilmu penetuan dan sosial kemasyarakatan.

Itulah pengetahuan tentang mufti. Ternyata mufti tidak sekedar menguasai ilmu agama tetapi juga ilmu pendukung lainnya. Artikel ini disadur dari laman Ensiklopedia Islam. Wallahu A’lam.     

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain