Berkunjung ke Makam Pangeran Jayakarta

makam pangeran jayakarta

Pangeran Jayakarta selalu dihubungkan dengan kelahiran kota Jakarta. Makam Pangeran Jayakarta sampai saat ini sering diziarahi banyak orang dari berbagai daerah. Bahkan para pejabat dari Presiden hingga politikus pernah berkunjung ketempat ini.


Kompleks makam di atas tanah seluas 3.000 meter persegi ini terletak di jalan Jatinegara Kaum No.49, RT.6/RW.3, Jatinegara Kaum, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur. Pangeran Jayakarta tidak dimakamkan sendirian. Ada deretan makam juga tampak mengelilingi. Sementara di sebelahnya, terdapat makam Pangeran Lahut yang merupakan putera dari Pangeran Achmad Jacetra.

Setiap hari selalu ada penziarah yang datang ke makam pangeran Jayakarta ini. Mereka mengaji sambil berdoa selain juga mengharap berkah. Biasanya menjelang bulan puasa, penziarah makin ramai mengunjungi makam ini.

Di Komplek makam ada pendopo berukuran 10×10 meter. Ada sebuah batu besar memunggungi 2 buah tombak dan sebuah perisai bertuliskan Jayakarta. Prasasti itu dibuat 2003 dan merupakan persembahan dari mantan Panglima TNI Djoko Santoso saat menjabat sebagai Pangdam Jaya.


Di samping makam keramat juga berdiri pohon besar nan kokoh yang ditaksir berusia ratusan tahun. Pohon berjenis Kiara diperkirakan berumur 300 tahun lebih. Kompleks makam itu juga terdapat sebuah Masjid Jami’ Assalafiyah.


Pemugaran makam ini dimulai saat ulang tahun Kota Jakarta ke-441. Gubernur Ali Sadikin meresmikan berdirinya Makam Pangeran Jayakarta. Kemudian, pada 1999, berdasarkan Perda Khusus Ibukota Jakarta No. 9, Makam Pangeran Jayakarta diangkat statusnya menjadi benda cagar budaya.


Dalam buku Hikayat Hasanuddin dan Sajarah Banten Rante-rante yang disusun pada abad ke-17 mengatakan bahwa Pangeran Jayakarta atau Jayawikarta adalah putra Tubagus Angke dan Ratu Pembayun, puteri Hasanuddin, anak Sunan Gunung Jati, menantu Fatahillah.


Pangeran Jayakarta mewarisi kekuasaan atas pelabuhan Sunda Kelapa dari Fatahillah pada Februari 1527. Fatahillah yang mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakerta atau Jayakarta. Nama itulah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya kota Jakarta pada 22 Juni 1527.

Karena pernah mengusir Gubernur Jenderal JP Coen dan VOC,Pangeran Jayakarta merupakan orang yang paling diburu hingga akhirnya Jayakarta direbut. Menurut Alwi Shahab dalam Betawi Queen of the East mengatakan bahwa saat Jayakarta jatuh ke tangan Belanda, Pangeran Achmad Jaketra dan para pengikutnya hijrah ke sebuah daerah yang ditumbuhi pohon jati yang kemudian dikenal sebagai Jatinegara Kaum.


Pada 1620, Pangeran Achmad Jaketra mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid As-Salafiyah. Dari masjid ini pangeran Jaketra atau Jayakarta menyusun perlawanan hingga akhir hayatnya. Diperkirakan Pangeran Jaketra wafat pada 1640 dan dimakamkan di dekat masjid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain