Masjid Angke, Masjid Kuno yang Arsitekturnya Multietnik

masjid angke

Ada sebuah peninggalan masjid yang mempunyai nilai multikultural di Angke Jakarta. Masjid Angke yang didirikan tahun 1761 saat ini masih berdiri kokoh. Arsitekturnya multietnik adalah campuran dari pengaruh Jawa, Bali, Arab, Eropa dan Cina.

Secara arsitektur pengaruh budaya Jawa terlihat dari atap tumpang dan bangunan bujur sangkar serta empat saka gurunya. Sedangkan pengaruh Eropa tepatnya Belanda bisa dilihat dari lubang lain di atas pintu yang mempuyai hiasan, pola dan warnanya mirip dengan gedung peninggalan Belanda yaitu gedung Arsip Nasional. Pengaruh Arab pada bisa dilihat dari teralis jendela maupun teralis tangga di loteng.

Masjid Angke resminya bernama masjid Al Anwar yang di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Masjid Angke dibangun pada tahun 1761 M (tepatnya, tanggal 26 Sya’ban 1174 H) Menurut cerita lisan masjid ini diprakrasai oleh seorang perempuan keturunan Tionghoa yang bernama Tan Nio yang makamnya ada di belakang masjid. Makam tersebut merupakan kuburan oang-orang dari berbagai macam etnik seperti Jawa, Betawi, Arab hingga Cina. Ada makam Syeh Liong Tan orang yang diyakini sebagai arsitek masjid Angke di komplek pemakaman tersebut. Di komplek masjid terdapat juga makam Syarif Hamid Alkadrie, salah-seorang keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak yang dibuang ke Batavia pada tahun 1854.

Sedangkan budaya Cina terlihat dari ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung. Gaya bangunan ini hanya terlihat dari rumah orang Cina kuno yang ada di berbagai kota di Indonesia.  “Itu pengaruh Cina,  “Bahkan nanti pemilihan warna itu sudah hampir warna-warna yang sifatnya orang Tionghoa buat di bangunan-bangunan Batavia pada saat itu,” ungkap Candrian seorang arkeolog seperti dilansir BBCIndonesia.  “

Masjid Al Anwar atau Masjid Angke berdiri diatas tanah seluas 400 meter persegi. Masjid ini termasuk berukuran kecil yaitu 15 x 15 meter. Gapuranya yang terletak di sebelah utara dan bentuknya masih asli. Adapun pintu masuknya menempati sudut selatan berbentuk gapura tertutup. Saat ini masjid tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya. (Dari berbagai sumber)

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

iblis

Dialog Sufi dan Iblis

Dikisahkan Junaid Al Bagdad, serang sufi yang masyhur ini ingin bertemu Iblis. Hingga suatu hari akhirnya berjumpalah dengan makhluk laknatullah ini. Ada dialog menarik ketika

kulit kentang

Sepuluh Manfaat Kulit Kentang

Kentang dikenal sebagai umbi-umbian yang kaya manfaat untuk tubuh. Selain menyehatkan , rasanya juga enak ketika direbus atau digoreng. Namun ternyata kulit kentang juga mempunyai