Menziarahi Masjid Gede Mataram Yogyakarta

Bila Anda ke Yogyakarta, mampirlah sejenak di Kota Gede. Pusat kerajian perak ini mempunyai peninggalan masjid yang sangat unik dan mempunyai sejarah panjang. Masjid Gede Mataram Kotagede adalah masjid tertua di Yogyakarta. Sultan Agung membangunnya pada tahun 1640 M.

Namun disebutkan bahwa Masjid Gede Mataram sudah ada sejak Ki Ageng Pamanahan.  Awalnya, masjidhanya berupa musolla atau langgar. Tetapi langgar tersebut dipindahkan lalu dijadikan cungkup makam pada masa kepimpinan anaknya, Panembahan Senopati. Menurut Babad Monama pada tahun 1511 Jawa atau 1589 M sebuah masjid didirikan atas perintah Panembahan Senopati. Kemungkinan masjid tersebut adalah cikal bakal dari Masjid Gede Mataram.

Pembangunan Masjid Gede ini melibatkan masyarakat non muslim. Dalam gapura berbentuk paduraksa dengan tembok bertuliskan huruf L yang merupakan simbol toleransi Sultan Agung pada warga Hindu dan Buddha yang ikut bergotong royong membangun masjid.

Memasuki kompleks masjid ada sebuah prasasti yang ada lambang Kasunanan Surakarta. Lo kok bisa? Usut punya usut ternyata pembangunannya dilakukan dua tahap. Pertama zaman Sultan Agung dan tahap kedua dilaksanakan oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Adapun perbedaannya terletak pada bagian tiang. Tiang masjid yang dibangun oleh Sultan Agung berasal dari kayu. Adapun yang dibangun oleh  Pakubuwono X memakai besi sebagai tiang masjid.

Bentuk masjid ini adalah limasan yang di bagi dua bagian yaitu bangunan ini dan serambi. Masjid Gede Mataram ini juga mempunyai bedug yang umurnya sudah tua dan merupakan pemberian dari Nyai Pringgit. Gaya arsitekturnya memadukan unsur budaya Jawa Kuno (Hindu-Budha) dan Islam.  Adapun gaya gapuranya mengadopsi garupa Masjid Kudus. Di dalam masjid terdapat mimbar yang terdapat dari kayu ukir yang merupakan hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung. Namun mimbar untuk khotbah tidak digunakan saat ini.

Di sekeliling masjid ada tembok yang terdapat perbedaan yaitu ukuran dan warnanya Tembok bagian kiri ukuran batu bata lebih besar dengan warna merah tua, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa. Tembok yang di kiri masjid yang dibangun Sultan Agung Sedangkan tembok sisanya dari batu bata yang berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos yang merupakan hasil renovasi Paku Buwono X.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain